MALANG – Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., yang kini menjabat sebagai Penasehat Khusus Presiden dalam Bidang Haji, resmi menerima pengukuhan sebagai Guru Besar dalam Ilmu Sosiologi Pendidikan Luar Sekolah di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM), pada Kamis, 13 Februari 2025. Meskipun Surat Keputusan (SK) Guru Besar telah diterbitkan pada 2014, prosesi ini baru dapat dilaksanakan setelah penundaan yang disebabkan oleh kesibukan Muhadjir di dunia pemerintahan.
Muhadjir menjelaskan bahwa penundaan ini bukanlah masalah administratif, melainkan terkait dengan tugasnya yang mendesak. “Setelah SK keluar, kurang dari 1,5 tahun saya dipanggil oleh Presiden Jokowi untuk bergabung dalam kabinet. Meskipun Rektor UM, Prof. Suparno, telah mendorong saya untuk segera dikukuhkan, saya harus membagi waktu,” ujarnya.
Kiprah Panjang dalam Pendidikan dan Pemerintahan
Nama Prof. Muhadjir Effendy sudah dikenal luas dalam dunia pendidikan Indonesia. Sebelum terjun ke dunia pemerintahan, ia telah lama mengabdi di dunia akademik, bahkan menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama tiga periode. Dedikasinya dalam pendidikan terbukti lewat kebijakan-kebijakan inovatif yang ia inisiasi ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada 2016-2019. Salah satu program besutannya adalah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), yang bertujuan untuk membentuk karakter siswa melalui sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Selain itu, sistem zonasi pendidikan yang ia perkenalkan menjadi terobosan penting dalam pemerataan kualitas pendidikan, memperbaiki distribusi guru, dan meningkatkan standar pendidikan nasional. Di bawah kepemimpinannya, Kartu Indonesia Pintar (KIP) juga lebih cepat tersebar, memberikan manfaat bagi 18,69 juta siswa di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, Muhadjir juga mendorong pengembangan pendidikan vokasi melalui Inpres Nomor 9 Tahun 2016, yang berfokus pada peningkatan daya saing lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Dalam kancah internasional, Muhadjir dipercaya memimpin Southeast Asian Ministers for Education Organization (SEAMEO) pada periode 2017-2019. Posisi tersebut memberikan peluang bagi Muhadjir untuk memperkuat kolaborasi pendidikan, sains, dan kebudayaan di Asia Tenggara.
Dampak Positif Kebijakan Sosial
Di luar dunia pendidikan, Muhadjir juga menunjukkan peran signifikan dalam kebijakan sosial. Sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), ia berhasil menurunkan angka stunting di Indonesia. Prevalensi stunting yang semula mencapai 30,8% pada 2018, kini turun menjadi 21,5% pada 2023, berkat berbagai strategi yang diterapkannya, termasuk distribusi alat kesehatan ke posyandu dan pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita.
Muhadjir juga menginisiasi program Pengukuran dan Intervensi Pencegahan Stunting yang melibatkan lebih dari 300.000 posyandu, dan berhasil mengukur lebih dari 16 juta balita. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan dalam sektor pendidikan dan kesehatan ini turut mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, yang naik dari 71,92 poin pada 2019 menjadi 74,39 poin pada 2023.
Penghargaan atas Dedikasi
Sebagai apresiasi terhadap kontribusinya yang luar biasa, Muhadjir Effendy menerima berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana (2020), Pioneer of National Education and Social Empowerment Pasca Award (2024), Anugerah Parahita Ekapraya (2020), Best Ministers Obsession Award (2020), hingga UNESCO-Hamdan bin Rashid Al-Makhtoum Award (2020).
Prof. Arief Rachman, tokoh pendidikan Indonesia, menyatakan bahwa Muhadjir adalah pendidik dengan wawasan luas dan memiliki visi global. Menurutnya, Muhadjir tidak hanya mengedepankan pendidikan berbasis karakter, tetapi juga berfokus pada pemajuan pendidikan yang berorientasi pada kualitas manusia.
Meninggalkan Warisan Pendidikan yang Kuat
Dengan pengukuhannya sebagai Guru Besar, Prof. Muhadjir Effendy menutup babak perjalanan panjangnya di dunia akademik dan pemerintahan. Ia menegaskan, “Jika saya pidato lebih awal, saya mungkin hanya akan berbicara tentang bagaimana saya menjadi profesor. Tetapi kini, saya bisa menyampaikan pidato berdasarkan pengalaman yang lebih kaya.”
Warisan yang ditinggalkan oleh Muhadjir di dunia pendidikan dan sosial akan terus memberikan dampak positif. Kebijakan-kebijakan yang ia terapkan bukan hanya memperkuat fondasi pendidikan Indonesia, tetapi juga membentuk masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Dengan komitmennya yang tinggi, Muhadjir menjadi bagian penting dalam mempersiapkan Indonesia menyongsong generasi emas 2045 yang siap bersaing di kancah global.
