Indeks

Dari Warung Kecil hingga Serap 22 Tenaga Kerja, Soto H. Fauzi Tumbuh Bersama Dukungan Pembiayaan BRI

  • Bagikan

SITUBONDO – Tidak banyak usaha kuliner yang mampu bertahan lebih dari enam dekade. Di tengah perubahan selera konsumen, munculnya kompetitor baru, hingga tantangan ekonomi, Warung Soto H. Fauzi tetap eksis sebagai salah satu kuliner legendaris di Situbondo. Kunci keberlangsungan usaha itu tidak hanya terletak pada resep yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga kemampuan mengembangkan bisnis melalui akses pembiayaan.

Warung Soto H. Fauzi yang berdiri sejak 1960 di kawasan depan PG Panji kini menjadi salah satu contoh bagaimana UMKM lokal mampu bertumbuh tanpa meninggalkan identitasnya. Pengelolaan usaha yang kini berada di tangan Munawaroh sebagai generasi keempat keluarga pendiri berhasil menjaga cita rasa khas sekaligus mengembangkan skala usaha agar mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berubah.

Strategi pengembangan tersebut terlihat dari pembukaan cabang di Jalan Ahmad Yani, Situbondo, sejak 2005. Langkah ekspansi itu membuat Warung Soto H. Fauzi tidak hanya dikenal masyarakat lokal, tetapi juga menjadi tujuan kuliner bagi wisatawan yang berkunjung ke Situbondo.

Di balik perkembangan usaha tersebut, terdapat dukungan pembiayaan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI yang menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnis Warung Soto H. Fauzi. Hubungan kemitraan itu dimulai pada 2015 saat usaha tersebut memperoleh fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk memperkuat modal usaha.

Perkembangan usaha yang terus meningkat membuat Warung Soto H. Fauzi kembali memperoleh dukungan melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) pada 2017 dengan nilai pembiayaan Rp50 juta. Kini, usaha tersebut menjadi nasabah KUR BRI dengan plafon pembiayaan mencapai Rp200 juta serta memanfaatkan berbagai layanan perbankan BRI untuk mendukung aktivitas usahanya.

Akses pembiayaan tersebut berdampak langsung terhadap kapasitas usaha. Saat ini Warung Soto H. Fauzi mampu mencatat omzet rata-rata sekitar Rp15 juta setiap hari dan menyerap 22 tenaga kerja. Angka itu menunjukkan bahwa pertumbuhan UMKM tidak hanya berdampak pada peningkatan bisnis pemilik usaha, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Pemimpin Cabang BRI Situbondo, Ary Juwono, mengatakan penguatan sektor UMKM menjadi salah satu fokus BRI karena memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah.

Menurutnya, Warung Soto H. Fauzi merupakan contoh bagaimana akses pembiayaan yang tepat mampu memperkuat fondasi usaha sekaligus membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk terus berkembang.

“BRI percaya bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam menggerakkan perekonomian daerah. Warung Soto H. Fauzi menjadi contoh nyata bagaimana akses pembiayaan yang tepat dapat mendorong pelaku usaha untuk terus berkembang, membuka lapangan pekerjaan, serta menjaga keberlangsungan usaha yang telah diwariskan lintas generasi. BRI akan terus hadir sebagai mitra bagi UMKM melalui pembiayaan, pendampingan, dan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha,” ujar Ary.

Sementara itu, Munawaroh mengatakan dukungan pembiayaan dari BRI memberikan ruang bagi usahanya untuk terus melakukan pengembangan tanpa menghilangkan ciri khas yang telah menjadi kekuatan Warung Soto H. Fauzi selama puluhan tahun.

“Sejak menjadi nasabah BRI, kami merasakan manfaat pembiayaan yang membantu pengembangan usaha, mulai dari penambahan fasilitas, peningkatan kapasitas produksi, hingga penguatan modal kerja,” katanya.

Ia menjelaskan, penguatan modal memungkinkan usahanya meningkatkan kapasitas pelayanan sekaligus mempertahankan kualitas rasa yang selama ini menjadi alasan pelanggan terus datang.

“Dukungan tersebut membuat kami dapat terus menjaga kualitas cita rasa yang telah diwariskan keluarga sekaligus memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan. Kami juga bersyukur usaha ini dapat terus berkembang dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Perjalanan Warung Soto H. Fauzi menunjukkan bahwa keberlanjutan UMKM tidak hanya ditentukan oleh lamanya usaha berdiri, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan bisnis. Ketika tradisi, inovasi, dan akses pembiayaan berjalan beriringan, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas sekaligus memberi kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

  • Bagikan
error: Dilindungi Hak Cipta
Exit mobile version