TAGARINDONESIA – Di tengah gempuran kue modern dengan tampilan mencolok dan varian rasa yang kian beragam, pilihan untuk bertahan pada resep sederhana justru menjadi langkah yang tidak banyak diambil. Namun, jalur inilah yang dipilih Ajay Bakery, usaha rumahan di Desa Tegalweru, Dau, Kabupaten Malang, yang mengandalkan bolu pisang tanpa pengawet sebagai produk utama.
Alih-alih mengikuti tren pasar, pemilik usaha Abadi Wijaya justru membaca celah lain: meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap makanan yang lebih alami dan aman dikonsumsi. Ia menilai, di balik maraknya kue kekinian, ada kekhawatiran soal bahan tambahan yang digunakan.
“Bolu pisang ini berbahan dasar pisang asli, tanpa pengawet. Jadi lebih aman dan bisa dikonsumsi semua kalangan,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Ajay Bakery memang dibangun dari proses panjang yang tidak instan. Berawal dari eksperimen sederhana di dapur rumah, Abadi mencoba berbagai resep setelah terinspirasi dari kegemaran sang istri terhadap bolu pisang. Tanpa latar belakang kuliner, ia mengandalkan pembelajaran mandiri dari berbagai sumber daring, lalu mengembangkan resep hingga menemukan karakter rasa yang konsisten.
“Awalnya hanya coba-coba. Belajar dari video, lalu kami modifikasi sampai menemukan rasa yang pas,” katanya.
Di tengah keterbatasan skala produksi, Ajay Bakery justru menempatkan kontrol kualitas sebagai prioritas utama. Pemilihan bahan dilakukan secara selektif, terutama pada pisang yang menjadi komponen kunci. Tingkat kematangan hingga jenis pisang diperhitungkan untuk menjaga konsistensi rasa di setiap produksi.
Proses produksi yang masih manual juga dipertahankan. Selain sebagai bentuk kontrol kualitas, cara ini dinilai membantu menjaga harga tetap terjangkau. Di sisi lain, pendekatan homemade menjadi nilai tambah tersendiri bagi konsumen yang mencari produk rumahan dengan cita rasa autentik.
Namun, konsistensi tersebut tidak lepas dari tantangan. Fluktuasi harga bahan baku menjadi salah satu tekanan utama, di samping keterbatasan pemasaran dan belum adanya outlet fisik. Ajay Bakery hingga kini masih mengandalkan sistem pre-order, sebuah pilihan yang kerap berbenturan dengan ekspektasi konsumen yang menginginkan produk siap beli.
“Kalau produksi tanpa kepastian terjual, risikonya besar. Jadi kami tetap pakai sistem PO untuk menjaga kualitas dan menghindari kerugian,” jelas Abadi.
Keputusan itu juga berkaitan dengan prinsip usaha yang dipegang: tidak menggunakan bahan pengawet. Konsekuensinya, daya tahan produk menjadi terbatas dan distribusi ke luar kota belum bisa dilakukan secara optimal. Pengalaman pengiriman yang memakan waktu hingga beberapa hari bahkan sempat menimbulkan risiko kerusakan produk.
Di balik berbagai keterbatasan tersebut, titik balik usaha ini justru datang dari kepercayaan konsumen awal. Salah satunya ketika seorang dosen senior memesan dalam jumlah besar untuk sebuah acara. Pesanan itu menjadi momentum yang mendorong Ajay Bakery beralih dari sekadar konsumsi pribadi menjadi usaha komersial.
Seiring waktu, produksi mulai berjalan rutin dengan dukungan jaringan lokal, termasuk kerja sama dengan koperasi mahasiswa di lingkungan kampus. Meski demikian, pengembangan produk masih dibatasi oleh ketersediaan tenaga. Beberapa varian baru sempat diuji, namun akhirnya difokuskan kembali pada bolu pisang sebagai produk inti.
Saat ini, Ajay Bakery menawarkan beberapa varian seperti original, almond, kismis, keju, dan campuran. Pemasaran dilakukan secara terbatas di wilayah Malang Raya melalui pemesanan langsung, dengan memanfaatkan platform pesan singkat.
Ke depan, Abadi tidak menargetkan ekspansi besar secara cepat. Ia justru menaruh harapan pada penguatan kualitas dan kepercayaan konsumen. Dalam jangka panjang, ia ingin bolu pisang produksinya tidak sekadar dikenal, tetapi juga memiliki posisi sebagai alternatif oleh-oleh khas Malang yang berbasis pada kejujuran rasa.
“Mimpi kami sederhana, ingin produk ini semakin dikenal dan bisa jadi salah satu oleh-oleh khas Malang,” ujarnya.
