Unggahan akun Threads @tika.wnugrahani pada Selasa, 25 Agustus 2026, ramai diperbincangkan setelah memuat kronologi dugaan persoalan dana milik keluarganya yang dikaitkan dengan seorang perempuan bernama Kurnia Widhyastuti atau Nia Widhy, yang disebut pernah bekerja di BRI Cabang Pasuruan. Persoalan itu disebut bermula ketika perempuan tersebut menawarkan penempatan uang milik ibu mertua pengunggah ke deposito dengan alasan membantu memenuhi target pekerjaan.
Menurut kronologi pengunggah, uang diberikan secara bertahap sejak 2021 hingga 2024 karena korban masih memiliki hubungan keluarga dengan perempuan tersebut dan mempercayai dana akan ditempatkan dalam deposito BRI. Masalah baru diketahui anak-anak korban pada awal 2025 ketika sang ibu membutuhkan uang untuk perawatan dan pengobatan, tetapi disebut mengalami kesulitan saat meminta pencairan dana.
Keluarga kemudian mengaku mendatangi BRI Pasuruan untuk memastikan keberadaan dana dan menyebut tidak menemukan setoran deposito atas nama sang ibu sebagaimana yang mereka pahami selama ini. Setelah upaya penyelesaian secara kekeluargaan dinilai belum menuntaskan persoalan, keluarga membawa kronologi tersebut ke media sosial hingga memicu beragam respons pengguna Threads.
Bermula dari Permintaan Membantu Target Pekerjaan
Dalam unggahannya, @tika.wnugrahani membuka kronologi dengan meminta bantuan pengguna media sosial untuk menyebarkan persoalan yang sedang dihadapi keluarganya.
“Thread and instagram please do your magic. Kronologinya :” tulis pengunggah.
Ia menyebut persoalan bermula ketika seorang perempuan bernama Kurnia Widhyastuti, yang dalam unggahan turut disebut Nia Widhy atau Nia Aryesti, meminta bantuan ibu mertuanya untuk memenuhi target pekerjaan.
Menurut pengunggah, perempuan tersebut ketika itu bekerja di BRI Cabang Pasuruan. Ia disebut menawarkan bonus apabila sang ibu bersedia menyerahkan dana untuk ditempatkan dalam deposito.
Namun, keluarga menyatakan tujuan utama korban bukan memperoleh bonus. Sang ibu disebut bersedia memberikan dana karena ingin membantu keponakannya yang masih memiliki hubungan keluarga dekat dengannya.
Hubungan tersebut menjadi dasar kepercayaan korban. Karena menganggap transaksi dilakukan dengan kerabat sendiri, sang ibu disebut tidak menaruh kecurigaan terhadap permintaan yang disampaikan berulang kali. Dana kemudian diserahkan dengan pemahaman bahwa uang tersebut akan ditempatkan dalam produk deposito BRI.
Dana Disebut Diserahkan Bertahap Sejak 2021
Berdasarkan kronologi keluarga, penyerahan uang tidak hanya terjadi satu kali. Setelah transaksi awal tidak menimbulkan kecurigaan, permintaan serupa disebut kembali dilakukan dalam beberapa kesempatan. Pengunggah menyebut penyerahan dana berlangsung bertahap sepanjang 2021 hingga 2024.
Kepercayaan kepada kerabat membuat korban disebut tidak terlalu memperhatikan kelengkapan dokumen maupun bukti transaksi atas dana yang diberikan. Selama periode tersebut, anak-anak korban disebut belum mengetahui secara lengkap adanya penyerahan uang kepada perempuan yang bersangkutan.
Sang ibu juga masih meyakini bahwa dana yang diserahkannya telah ditempatkan dalam deposito sebagaimana penjelasan yang ia terima. Persoalan baru muncul ketika dana tersebut hendak digunakan kembali.
Masalah Terungkap Saat Korban Membutuhkan Dana
Pada awal 2025, ibu mertua pengunggah disebut membutuhkan uang untuk keperluan perawatan dan pengobatan. Ia kemudian meminta agar dana yang diyakininya berada dalam deposito segera dicairkan. Menurut keluarga, permintaan pencairan tersebut justru mengalami hambatan.
Karena proses pencairan dinilai semakin sulit, sang ibu akhirnya menceritakan kepada anak-anaknya mengenai dana yang sebelumnya telah diserahkan. Pengunggah bersama keluarganya kemudian berupaya memastikan keberadaan uang dengan mendatangi BRI Pasuruan.
Menurut klaim pengunggah, hasil pengecekan menunjukkan tidak ditemukan lagi setoran deposito atas nama sang ibu sebagaimana yang selama ini dipahami keluarga. Keterangan tersebut kemudian membuat keluarga mempertanyakan keberadaan dana yang telah diserahkan selama beberapa tahun.
Keluarga Tidak Menyalahkan BRI Pasuruan
Dalam kronologi yang disampaikan di Threads, pengunggah secara khusus menyatakan pihak BRI Cabang Pasuruan bukan pihak yang dipersalahkan atas persoalan tersebut. Menurut keluarga, pihak bank justru bersikap kooperatif ketika mereka datang untuk mencari penjelasan.
Keluarga menyebut pihak BRI Pasuruan membantu memberikan informasi terkait persoalan yang disampaikan serta melakukan upaya mediasi. Pengunggah juga menuding perempuan yang dipersoalkan pernah mencatut nama pimpinan cabang BRI Pasuruan untuk meyakinkan orang tuanya. Selain itu, ia mengklaim perempuan tersebut kemudian tidak lagi bekerja di bank tersebut.
Meski demikian, tudingan mengenai penggunaan nama pimpinan cabang, status pekerjaan, alasan berakhirnya hubungan kerja, hingga dugaan penyalahgunaan dana merupakan klaim yang disampaikan keluarga melalui media sosial. Keterangan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai fakta hukum sebelum mendapatkan konfirmasi dari pihak terkait atau dibuktikan melalui proses hukum.
Sempat Diselesaikan Secara Kekeluargaan
Setelah mengetahui adanya persoalan, keluarga mengaku tidak langsung menempuh jalur hukum. Mereka memilih lebih dahulu mencari penyelesaian secara kekeluargaan dengan meminta pengembalian dana. Dalam proses tersebut, perempuan yang dipersoalkan disebut berjanji mengembalikan uang milik korban.
Pengunggah menyatakan sebagian dana memang telah dikembalikan. Namun, menurut perhitungan keluarga, jumlah yang dikembalikan baru sekitar 25 persen dari keseluruhan dana yang mereka persoalkan. Keluarga kemudian kembali menagih sisa uang tersebut agar persoalan dapat diselesaikan.
Menurut pengunggah, proses itu tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Komunikasi disebut semakin sulit, sementara perempuan yang dicari keluarga diklaim tidak mudah ditemui. Keluarga juga mengaku kesulitan ketika mencoba mendatanginya secara langsung di rumah. Situasi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan keluarga memilih memublikasikan kronologi melalui media sosial.
Komentar Warganet Ikut Menjadi Perhatian
Setelah kronologi beredar, sejumlah pengguna Threads memberikan tanggapan di kolom komentar. Salah satunya berasal dari akun @ekache88 yang mengaku mengetahui sosok yang sedang dibicarakan dan menyampaikan klaim mengenai asal daerah serta riwayat pekerjaannya.
“Eh si Nita itu Kak, orang Singosari, dulu kerja jd teller trus putus kontrak, tapi ngaku diluaran jdi pekerja BRI prioritas,” tulis @ekache88.
Komentar tersebut tercatat memperoleh 33 tanda suka berdasarkan tangkapan layar yang tersedia. Pengunggah kemudian membalas komentar itu dengan mengoreksi penyebutan nama sekaligus menyatakan bahwa sosok yang dimaksud juga memberikan keterangan serupa kepada lingkungan keluarga.
“nia kak, betul. ngaku di keluargapun juga begitu kak. kenal ya?” balas @tika.wnugrahani.
Balasan tersebut memperoleh lima tanda suka dalam tangkapan layar yang dibagikan. Meski menarik perhatian pengguna lain, keterangan mengenai asal daerah, riwayat sebagai teller, berakhirnya kontrak kerja, serta klaim mengenai pekerjaan di BRI Prioritas tetap merupakan pernyataan pengguna media sosial. Informasi tersebut belum terverifikasi secara independen dan tidak dapat diperlakukan sebagai fakta.
Warganet Bereaksi atas Kronologi yang Beredar
Komentar lain datang dari akun @zzcelmira yang mengungkapkan keterkejutannya setelah membaca kronologi tersebut.
“Ya ampunnn ternyata semua gaya e dr hasil nipu. Tiwas omongan e douwuuur,” tulis @zzcelmira.
Komentar itu tercatat memperoleh tiga tanda suka berdasarkan tangkapan layar yang tersedia. Pernyataan tersebut merupakan reaksi pengguna media sosial terhadap cerita yang disampaikan keluarga. Namun, tudingan mengenai sumber gaya hidup seseorang tidak dapat dianggap sebagai fakta tanpa adanya bukti yang bisa diverifikasi.
Percakapan di Threads kemudian berkembang dari pembahasan mengenai keberadaan dana ke kehidupan pribadi sosok yang disebut dalam unggahan. Dalam pemberitaan, komentar semacam itu hanya dapat ditempatkan sebagai gambaran reaksi warganet dan bukan sebagai bukti atas tuduhan yang sedang dipersoalkan.
Pengunggah Klaim Ada Kerabat Lain Mengalami Persoalan Serupa
Perbincangan semakin berkembang setelah keluarga menyatakan memperoleh informasi mengenai dugaan persoalan serupa yang disebut dialami anggota keluarga lainnya.
“Dari kejadian ini begitu keluarga kami speak up ternyata juga menimpa ke tante kami dan tidak menutup kemungkinan ke teman2 maupun tetangga yg disekitar,” tulis pengunggah.
Pernyataan itu memunculkan dugaan di pihak keluarga bahwa kemungkinan terdapat orang lain yang mengalami kejadian serupa. Namun, kronologi yang tersedia tidak memerinci jumlah orang yang diduga mengalami masalah, nilai dana yang disebut terlibat, maupun apakah pihak lain tersebut telah membuat laporan resmi. Karena itu, dugaan mengenai adanya korban lain masih berupa klaim pengunggah dan memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Keluarga Meminta Bantuan Pengguna Media Sosial
Dalam bagian akhir unggahan, keluarga meminta bantuan pengguna Threads apabila mengetahui keberadaan perempuan yang mereka cari.
“So mohon dibantu jika ada yg tau keberadaannya supaya disampaikan untuk menyelesaikan masalahnya tanpa harus menambah korban baru,” tulis pengunggah.
Ia juga meminta pengguna media sosial menyebarkan kronologi tersebut.
“Please bantu reshare . Thx,” tulisnya.
Permintaan itu membuat unggahan berkembang menjadi ruang diskusi antarpengguna Threads. Sejumlah warganet menyampaikan tanggapan, sementara pengunggah terlihat aktif membalas beberapa komentar.
Meski telah ramai dibicarakan di media sosial, seluruh tuduhan terhadap individu yang disebut dalam unggahan tetap harus ditempatkan sebagai klaim selama belum mendapat konfirmasi dari pihak yang bersangkutan atau dibuktikan melalui proses hukum. Pihak yang namanya disebut juga memiliki hak untuk memberikan klarifikasi atas tuduhan yang beredar. Berdasarkan materi unggahan dan tangkapan layar yang tersedia, belum terlihat adanya tanggapan langsung dari perempuan yang menjadi pihak dalam kronologi tersebut.
Kasus yang semula disebut berada dalam lingkup keluarga itu kini menjadi pembicaraan publik setelah diunggah ke Threads, sekaligus mengingatkan masyarakat untuk memastikan setiap transaksi maupun produk perbankan tercatat melalui prosedur dan dokumen resmi.
