IMG-20260209-WA0001
IMG-20260209-WA0015
IMG-20260218-WA0002
1771476803488
IMG-20260219-WA0009
IMG-20260219-WA0008
previous arrow
next arrow

75 Tahun Kolese Santo Yusup: Dari Pelita di Masa Krisis hingga Panggung 5.000 Alumni dan Siswa

  • Bagikan
banner 468x60

TAGARINDONESIA – Kolese Santo Yusup menandai usia ke-75 dengan cara yang tak biasa. Bukan sekadar seremoni, melainkan rangkaian panjang kegiatan yang dimulai sejak 19 Maret 2025 dan akan berpuncak pada 8 Agustus 2026. Tema yang diusung, Odyssey of Light: 75 Years of Legacy, menjadi benang merah perjalanan lembaga yang dahulu dikenal sebagai Hua-Ind itu.

Ketua Panitia 75 Tahun, Maria Margaretha A.S.P., menyebut peringatan ini dirancang sebagai refleksi sekaligus proyeksi masa depan. “Kami ingin generasi sekarang memahami bahwa sekolah ini berdiri dan bertumbuh karena kerja keras para pendahulu,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pencanangan kepanitiaan pada 19 Maret 2025. Beberapa bulan kemudian, tepatnya 12 Oktober 2025, ribuan orang mengikuti jalan sehat di kawasan Araya, Malang. Pesertanya mencapai sekitar 5.000 orang, terdiri dari siswa, guru, alumni, hingga warga sekitar. Di sela agenda tersebut, panitia juga menggelar dua kali donor darah sebagai bentuk kepedulian sosial.

Di internal sekolah, refleksi dilakukan melalui rekoleksi dan ziarah guru serta karyawan. Sementara itu, pentas seni menjadi salah satu momentum paling dinanti. Selain menampilkan bakat siswa, acara ini memutar kembali perjalanan sejarah sekolah lewat dokumentasi visual dan wawancara dengan para guru serta karyawan yang telah purnabakti. Pesan mereka disampaikan kepada generasi kini sebagai pengingat tentang akar dan nilai yang diwariskan.

Baca Juga:  Sakit, Ibunda Wawali Surabaya Meningal Dunia

Pada kesempatan yang sama, panitia meluncurkan film sejarah Kolese Santo Yusup. Tak berhenti di situ, tiga buku juga disiapkan. Pertama, buku refleksi 75 tahun berisi kisah guru, karyawan, dan siswa. Kedua, buku kenangan 75 tahun yang memuat sejarah dalam bentuk dokumentasi gambar. Ketiga, buku khusus memperingati 50 tahun imamat Romo Hilarius.

Perubahan juga terjadi pada Mars sekolah. Jika sebelumnya lirik menyebut Kota Malang sebagai tempat bersemayam, kini redaksinya diperbarui untuk mencerminkan kehadiran Kolese Santo Yusup yang telah berkembang hingga Bali. “Ini simbol bahwa kami tumbuh dan menjangkau lebih luas,” kata Maria.

Antusiasme publik terlihat dari seluruh undangan yang terjual habis. Dari total 5.000 undangan, sekitar 3.000 diperuntukkan bagi siswa, guru, dan karyawan. Sisanya dijual kepada alumni, orang tua, serta masyarakat umum. Tiket siswa seharga Rp25 ribu dan dikembalikan dalam bentuk makan malam, sementara tiket umum Rp50 ribu. “Responsnya luar biasa. Bahkan ada yang berbagi satu undangan untuk dua orang, tetapi tetap membayar dua tiket,” ungkap Maria.

Baca Juga:  Dirut Perumda Tugu Tirta Blacklist 4 CV Nakal, Upaya Memperbaiki Kinerja Manajemen

Agenda peringatan masih berlanjut. Setelah Idulfitri akan digelar Hari Pelindung Sekolah. Pada 7 dan 8 April, keluarga besar yayasan akan mengikuti kegiatan kebersamaan. Puncaknya dijadwalkan pada 8 Agustus 2026 dengan misa syukur 75 tahun sekolah, misa syukur 50 tahun imamat Romo Hilarius, serta temu kangen alumni lintas generasi.

Ketua Yayasan Kolese Santo Yusup, R.P. Agustinus Lie, CDD, menegaskan bahwa makna Odyssey of Light tak lepas dari sejarah pendirian sekolah 75 tahun silam di tengah situasi sosial-politik yang bergejolak. “Saat itu, Kolese Santo Yusup hadir sebagai pelita. Ke depan, kami ingin cahaya itu menjadi api yang terus menyala,” katanya.

Ia menyebut empat nilai yang menjadi fondasi perjalanan sekolah: pendidikan, iman, karakter, dan persaudaraan. Dalam pandangannya, dunia pendidikan kini menghadapi polarisasi. Karena itu, sekolah harus menjadi ruang inklusif yang menumbuhkan daya pikir sekaligus empati. Soal iman, ia menekankan bahwa perbedaan adalah realitas, tetapi tidak boleh memecah persatuan.

Baca Juga:  Mujahadah Kubro 1 Abad NU, Sekjend DPP Cak Udin Instruksi Kader PKB Turun Melayani Jemaah

Kolese Santo Yusup, lanjutnya, menghimpun siswa dari berbagai daerah sehingga menjadi gambaran kecil Indonesia. Setiap dua tahun, sekolah menyelenggarakan program Pelangi Bangsaku untuk memperkuat karakter kebangsaan. “Kami mungkin tidak hadir di seluruh pelosok negeri, tetapi para murid kami yang akan membawa nilai-nilai itu ke mana pun mereka melangkah,” ujarnya.

Memasuki usia 75 tahun, Kolese Santo Yusup tidak hanya merayakan masa lalu. Sekolah ini menatap usia 100 tahun dengan keyakinan untuk tetap relevan dan menjadi pilihan pendidikan yang dipercaya orang tua. Cahaya yang dinyalakan tujuh dekade lalu diharapkan terus menyebar, mengikuti jejak para alumninya yang kini tersebar di berbagai penjuru.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilindungi Hak Cipta