IMG-20260209-WA0001
IMG-20260209-WA0015
IMG-20260218-WA0002
1771476803488
IMG-20260219-WA0009
IMG-20260219-WA0008
previous arrow
next arrow

Reses Temui Pengrajin Tempe Sanan Kota Malang, Ketua BAKN DPR RI Andreas Eddy Susetyo Diwaduli Naiknya Harga Bahan Baku Utama Kedelai

  • Bagikan
banner 468x60

MALANG | TAGAR INDONESIA.COM – Anggota Komisi XI DPR RI Ir Andreas Eddy Susetyo MM menggelar reses bertemu dengan puluhan warga pengrajin tempe yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Industri Tempe Sanan, Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Dalam kesempatan itu, Andreas didampingi Ketua Pokdarwis Kampung Industri Tempe Sanan Dra. Trinil Sri Wahyuni.

Momentum bertemu dengan Andreas Eddy Susetyo yang juga Ketua Badan Akuntabiltas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI para pengrajin tempe mengeluhkan soal naiknya harga bahan baku pokok tempe yang terbuat dari kedelai.

Dimana sejak awal tahun 2026, harga bahan baku kedelai hanya 7.000 per kilogram kini sudah naik menjadi 10.600. Jadi sejak awal tahun hingga sekarang sudah ada kenaikan harga kedelai sebesar 3.600 per kilogram.
“Kami mohon kepada bapak Andreas selaku wakil kami di DPR RI agar bisa memperjuangkan harga kedelai bisa diturunkan harganya,” ujar Trinil Sri Wahyuni.

Baca Juga:  Perluas Area Parkir, DPC PDIP Kabupaten Kediri Serahkan Pembelian Tanah ke DPD Jatim

Sedangkan jumlah per hari kebutuhan kedelai untuk mensuplai pengrajin Sanan jumlahnya mencapai 30-40 ton per hari.

Nah, akibat naiknya harga kedelai kata Trinil Sri Wahyuni berakibat pada menurunnya pendapatan para pengrajin tempe. Mengingat besarnya biaya operasional pembuatan tempe.
“Rata rata penurunan pendapatan para pengrajin tempe di Kampung Sanan turun 30 persen,” tutur Trinil Sri Wahyuni.

Mendengar keluhan itu, Andreas Eddy Susetyo tak menampik adanya kenaikan harga kedelai lantaran dipicu ketidakmampuan petani dalam negeri untuk melayani permintaan pasar. Sehingga harus impor dari luar negeri.

Seperti diketahui bahan baku kedelai yang dipergunakan pengrajin tempe Sanan, Kota Malang ini berasal dari Amerika Serikat. Sehingga kedelainya impor.
“Barang impor itu acuannya dolar. Ketika dolar naik secara otomatis berdampak terhadap naiknya harga barang. Ini problemnya,” ucap Andreas.

Baca Juga:  Terpeleset saat Hujan Deras, Wanita Paruh Baya Terseret Arus Gorong-Gorong

Untuk itu, kata Andreas, pihaknya nanti akan memberikan masukan kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian agar mencari solusi harga kedelai bisa diturunkan.
“Terima kasih masukannya. Ini menjadi bahan untuk kami sampaikan ke Kementerian Pertania. Tentu kami akan perjuangkan agar harga kedelai bisa turun,” pungkasnya. (Gus)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilindungi Hak Cipta