Pesan dari Perang Badar (Bulan Ramadhan) untuk Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama

  • Bagikan
banner 468x60

Jelang digelarnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), atmosfer perpolitikan dan dinamika internal organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini kembali menghangat.

Riak-riak kontestasi, silang pendapat mengenai arah kepemimpinan, hingga kalkulasi dukungan antarwilayah menjadi pemandangan yang akrab setiap kali hajatan tertinggi organisasi ini tiba. Di tengah hiruk-pikuk itu, ada momen sejarah suci yang terjadi di bulan mulia yang layak menjadi cermin kita: Perang Badar yang berlangsung di Bulan Ramadhan, bulan puasa.

Bagi warga nahdliyin, mengingat Badar bukan sekadar sejarah kemenangan, melainkan memanggil kesadaran jiwa yang sedang berpuasa: kesucian niat, keteguhan hati, dan kebersamaan yang utuh.

Peristiwa di Badar pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah mengajarkan bahwa kemenangan sejati lahir bukan dari jumlah kekuatan atau harta, melainkan dari keimanan, ketulusan ibadah, dan persatuan yang kokoh di atas jalan Allah.

Kekuatan Ramadhan dan Kemenangan Hati

Perang Badar terjadi di bulan yang penuh berkah—bulan puasa. Di saat nafsu sedang dikendalikan, hati dibersihkan, dan niat diluruskan.

Pasukan Muslimin yang sedikit, senjata terbatas, namun bersatu padu dan penuh ketakwaan mampu berdiri tegak melawan kesombongan kaum Quraisy yang jauh lebih besar.

Baca Juga:  Baju Loreng di Jabatan Sipil, PuSDek: Revisi UU TNI Kenapa Terburu, Tak ada Kondisi Mendesak

Ini pesan mendalam bagi kita: Bulan Ramadhan mengajarkan kita mengalahkan ego dan nafsu.

Dalam konteks Muktamar, ini adalah ibadah politik yang paling tinggi: mampu menahan diri dari ambisi pribadi, tidak tergoda kepentingan sesaat, dan menempatkan kemaslahatan umat di atas segalanya. Kemenangan di Badar adalah bukti bahwa ketika hati bersih seperti di bulan puasa, pertolongan Allah pasti turun.

Badar: Kemenangan Persatuan di Tengah Perbedaan

Berbeda dengan ujian di Uhud, Badar adalah kemenangan total yang dibangun di atas ukhuwah yang kokoh.

Tidak ada perpecahan, tidak ada meninggalkan posisi demi harta, dan tidak ada rasa curiga antar sesama pejuang. Semua bergerak dalam satu komando, satu tujuan: membela kebenaran dan menegakkan kalimat Allah.

Surah Ali Imran ayat 123-124 mengingatkan kita pada peristiwa agung ini: “Dan sesungguhnya Allah telah memberikan pertolongan kepadamu di tempat Perang Badar, sedang kamu saat itu lemah… Maka bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu bersyukur.”

Menguji Watak Jam’iyyah dengan Semangat Puasa

Jika ditarik ke konteks Muktamar ke-35 NU hari ini, semangat Badar di bulan Ramadhan menjadi cermin jernih bagi kita:

Baca Juga:  "May Day" Alarm Perjuangan Mewujudkan Sosialisme Indonesia

– Puasa Ambisi: Menahan diri dari nafsu kekuasaan yang berlebihan.
– Puasa Fitnah: Menjaga lisan dan hati dari tuduhan, prasangka serta perpecahan.
– Puasa Pribadi: Meleburkan ego kelompok menjadi satu tubuh besar Nahdlatul Ulama.

Musuh terbesar kita bukanlah lawan debat atau fraksi lain, melainkan sifat kikir, sombong, dan memecah belah yang bertentangan dengan jiwa bulan suci. Seperti di Badar, kita tidak boleh merasa hebat karena jumlah atau kekuatan, tapi harus merasa lemah dan senantiasa memohon pertolongan Allah.

Introspeksi: Ramadhan Melatih Hati Rendah Hati

Kemenangan di Badar tidak membuat Rasulullah ﷺ dan para sahabat menjadi sombong, justru semakin merendah, bersyukur, dan berpegang teguh pada ajaran ilahi. Semangat inilah yang harus kita bawa ke dalam arena sidang dan ruang komisi. Muktamar bukan ajang mengadu kekuatan atau panggung ego, melainkan wadah menyempurnakan persaudaraan layaknya sahabat yang berjuang bahu-membahu di hari yang suci itu.

Bulan Ramadhan mengajarkan kita keadilan, kelembutan, dan kesabaran. Ketika perbedaan pendapat muncul, mari kita hadapi dengan hati yang jernih, tidak panas, dan penuh kewibawaan—sesuai jiwa yang sedang membersihkan diri lewat puasa. Kemenangan yang paling mulia bukan jika kelompok kita berhasil menduduki kursi, tapi jika kita semua berhasil menjaga keutuhan dan kehormatan Jam’iyyah.

Baca Juga:  SPMB 2025 Harus Jadi Wajah Keadilan Pendidikan, PuSDeK Ingatkan Harus Adil dan Lindungi Hak Warga Lokal

Menjaga Marwah di Bulan yang Diberkahi

Pesan dari Perang Badar sangat tegas dan abadi: Kekuatan yang sesungguhnya adalah persatuan dan ketakwaan kepada Allah.
Muktamar ke-35 NU di Jombang hendaknya menjadi “Badar baru” bagi pergerakan kita: di mana kita menanggalkan kepentingan pribadi, membasmi prasangka buruk, dan kembali bersatu dalam satu niat luhur melayani umat dan bangsa.

Semoga kita diberi kekuatan serupa pasukan Badar: hati yang teguh, niat yang suci, dan persaudaraan yang tak tergoyahkan. Semoga Muktamar ini membawa berkah layaknya bulan Ramadhan, melahirkan pemimpin yang jujur, amanah, dan memantapkan langkah NU menjadi benteng Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.

Wallahu a’lam bis-showab.

Oleh: Dr. KHR Mas Budiyono Santoso

(Wakil Ketua MWC NU Lowokwaru Malang, Pengasuh Pondok Pesantren Agung Al Mubarok Malang & Ka. Prodi Ekonomi Syariah STIES Riyadlul Jannah Mojokerto)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilindungi Hak Cipta