IMG-20260209-WA0001
IMG-20260209-WA0015
previous arrow
next arrow

Pencarian Resmi Ditutup, Tim SAR Gabungan Temukan Korban Terakhir Terseret Ombak Pantai Balaikambang Fahmi Mengapung di Laut

  • Bagikan
banner 468x60

TAGAR INDONESIA.COM – Korban terakhir yang hilang terseret ombak Pantai Balaikambang akhirnya berhasil diketemukan tim SAR Gabungan.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Polres Malang, Basarnas dan dibantu relawan akhirnya berhasil menemukan jasad Muhammad Fahmi Sirrillah, 15, Jumat siang, (11/4/2025).

Penemuan korban terakhir ini sekaligus mengakhiri pencarian yang dilakukan Tim SAR Gabungan selama tiga hari.

“Korban ditemukan dalam keadaan mengapung sekitar empat mil laut dari lokasi awal kejadian. Jadi tepatnya di perairan sebelah barat Pantai Rantai Wulung,” ujar Kasihumas Polres Malang, AKP Bambang Subinajar kepada awak media.

Sebelum Fahmi ditemukan, pagi hari tadi tim SAR Gabungan terlebih dahulu menemukan dua korban yang juga hilang karena terseret ombak Pantai.

Baca Juga:  Tim Sar Temukan 10 Korban Meninggal Dunia dalam Tragedi Longsor Cangar Batu - Pacet Mojokerto

Dua orang teridentifikasi atas nama Yasser Arafat Inninawa ( 15 tahun ) dan Muhammad Luthfi Munawar, (15 tahun).

Seperti diketahui Fahmi, Yasir Arafat Inninawa dan Lutfi Munawar, merupakan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto.

Mereka hilang dilaporkan terseret ombak pada Rabu 9 April 2025, saat berenang di Pantai Balekambang.

“Korban langsung dievakuasi dan dibawa ke RSSA Malang untuk pemeriksaan medis dan penanganan lebih lanjut,” tambah Jono pengelola Pantai Balaikambang.

Jono menyampaikan rasa Terima kasih kepada Tim SAR berbagai instansi, termasuk Satpolairud Polres Malang, Basarnas, BPBD Jawa Timur serta tik relawan yang selama tiga hari melakukan pencarian tiga korban.

“Semoga ini dicatat menjadi amal ibadah karena rasa kemanusiaan,” kata Jono.

Baca Juga:  Selidiki Dugaan Kasus Keracunan MBG siswa MTS Al Khalifah, Penyidik Polres Malang Tunggu Hasil Uji Laboratorium

Jono menegaskan musibah ini diharapkan untuk yang terakhir kalinya.

Sehingga ini menjadi pengingat akan bahayanya berenang di wisata pantai selatan.

Untuk itu, Jono mengimbau wisatawan untuk selalu waspada dan mematuhi larangan rambu-rambu yang sudah diberikan oleh pengelola pantai.

“Kami tidak kurang kurang selalu mengingatkan wisatawan untuk patuh dan tidak berenang di area yang berbahaya,” tandas pria asal Bantur ini. (Doni)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilindungi Hak Cipta