IMG-20260209-WA0001
IMG-20260209-WA0015
IMG-20260218-WA0002
1771476803488
IMG-20260219-WA0009
IMG-20260219-WA0008
previous arrow
next arrow

Nusantaraya Menyala di Malang Raya: Ketika Kreativitas Menjadi Bahasa Persatuan

  • Bagikan
wilayah Malang Raya akan menjadi panggung besar bagi Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, perayaan ide dan kolaborasi nasional bertajuk “Nusantaraya – Senyawa Malang Raya.”
banner 468x60

TAGARINDONESIA – Dari udara sejuk Batu hingga gemuruh kota Malang dan heningnya candi di Kabupaten Malang, satu getar yang sama tengah beresonansi: kreativitas. Pada 6–10 November 2025 mendatang, wilayah Malang Raya akan menjadi panggung besar bagi Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, perayaan ide dan kolaborasi nasional bertajuk “Nusantaraya – Senyawa Malang Raya.”

Festival ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah pernyataan sikap, bahwa kreativitas bukan hanya urusan estetika, melainkan urat nadi pembangunan. Tiga wilayah yang berbeda karakter itu kini menyatukan langkah menuju cita-cita besar: menjadikan Jawa Timur sebagai Creative Province.

Di Kota Batu, perhelatan akan dibuka dengan peresmian Selecta Living Museum, ruang baru yang mengubah warisan sejarah menjadi pengalaman belajar lintas generasi. Dari museum yang hidup itu, publik diajak memahami bahwa inovasi bukan berarti melupakan masa lalu, tetapi menafsirkan ulang warisan agar relevan bagi masa depan.

Sehari kemudian, udara Batu akan dipenuhi aroma tanah dan rempah. Agro Creative Tour dan Produk Lokal Fest digelar, mengajak masyarakat menjelajahi pertanian kreatif, kuliner, hingga wisata edukatif yang menampilkan karya para pelaku UMKM dan pengrajin lokal. Ajang ini menjadi tonggak awal Road to Batu City of Gastronomy, ketika rasa, alam, dan budaya berpadu menjadi identitas baru sebuah kota.

Gelombang ide kemudian bergerak ke Kota Malang. Di Malang Creative Center (MCC), percakapan tentang masa depan kreatif akan bergulir melalui konferensi internasional “Future Creative Ecosystem: AI, Media Art, and Digital Humanity.” Topik tentang kecerdasan buatan dan media seni menjadi sorotan, mempertemukan pemikir, seniman, dan inovator dari berbagai negara. Di tempat yang sama, Festival Mbois 2025 kembali hadir dengan format segar, perpaduan seni instalasi, pertunjukan musik, dan pengalaman digital yang memantulkan semangat muda Malang Raya.

Baca Juga:  Ribuan Karyawan Sritex Kena PHK, Sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih Upayakan Cari Solusi

Lebih dari dua ratus enam puluh delegasi kota dan kabupaten kreatif dari seluruh Indonesia juga akan berkumpul dalam Kongres ICCN, membahas arah baru gerakan kreatif nasional menuju Indonesia Emas 2045. Di Malang, kreativitas tak lagi berdiri sendiri; ia menjelma menjadi strategi, menjadi energi sosial.

Puncak kemeriahan akan beralih ke Kabupaten Malang pada 9 November 2025 melalui Festival Nusantaraya dan ICCF Awarding Night. Tiga ruang budaya dibuka serentak: Boon Pring yang menampilkan Bamboo Living Museum dan Pasar Boon Pring; Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari yang menghadirkan panggung inovasi teknologi dan digital; serta salah satu candi bersejarah yang disulap menjadi ruang kontemplasi dan pertunjukan seni Nusantara.

Malam penghargaan yang digelar di akhir festival menjadi momen penghormatan bagi mereka yang menyalakan nyala kreativitas di berbagai daerah: komunitas, tokoh, hingga pemerintah lokal. Malam itu bukan hanya tentang piala dan panggung, tetapi tentang penghargaan terhadap keberanian berpikir dan ketekunan mencipta. Dalam semangat Hari Pahlawan, para pelaku kreatif diangkat sebagai pahlawan zaman kini, mereka yang membangun bangsa dengan gagasan dan karya, bukan pedang dan peluru.

Baca Juga:  Dorong Rehabilitasi Berkelanjutan, BNN Kota Malang sinergi GANN Malang Raya dalam Bimtek P4GN

Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM, melihat “Senyawa Malang Raya” sebagai bentuk nyata kolaborasi lintas batas. Ia menegaskan, “Festival Mbois ke-10 menjadi bukti bahwa energi kreatif Malang Raya lahir dari bawah, tumbuh dari masyarakat, dan kini menjadi penggerak provinsi kreatif Jawa Timur.” Sebagai kota yang berstatus UNESCO Creative City of Media Arts, Malang memposisikan kreativitas bukan sekadar kebanggaan budaya, tetapi mesin ekonomi yang menyejahterakan.

Dari sisi jejaring nasional, Ketua Umum ICCN, TB. Fiki C. Satari, menyebut ICCF 2025 sebagai momentum konsolidasi masyarakat kreatif yang bergerak berdampingan dengan pemerintah menuju Indonesia Emas. “Melalui Nusantaraya di Malang Raya, kita membuktikan bahwa kota-kota tak terikat batas administratif. Kita disatukan oleh ide dan keberagaman,” ujarnya dengan semangat.

Senada dengan itu, Ketua OC ICCF 2025, Sam Vicky Arief H, menyebut bahwa festival ini adalah gerakan besar yang menunjukkan kekuatan kolektif tiga kota. “Batu dengan gastronominya, Malang dengan media art-nya, dan Kabupaten Malang dengan budayanya, tiga kekuatan itu berpadu, menjadi denyut yang mendorong Jawa Timur menjadi provinsi kreatif,” katanya.

Baca Juga:  Wujud Rasa Syukur, Satlinmas Bumiayu Berbagi Takjil Gratis

Sementara Dadik Wahyu Chang dari Malang Creative Fusion menggambarkan Malang sebagai “laboratorium ide” di mana seni, teknologi, dan imajinasi berpadu. Menurutnya, ekosistem kreatif di Malang kini matang dan menjadi referensi bagi kota lain untuk membangun budaya inovasi. Dari Batu, Alan Wahyu Hafiludin dari Batu Creative Hub menambahkan bahwa potensi alam dan kuliner Batu kini berkembang menjadi kekuatan ekonomi berbasis kreativitas. “Dari pertanian dan rasa, Batu melangkah ke dunia,” ujarnya.

Dari sisi akar rumput, Boim dari komunitas Kalangan di Kabupaten Malang menegaskan bahwa kreativitas di daerahnya tumbuh dari tanah yang sama tempat tradisi berakar. “Kabupaten Malang adalah ruang tempat budaya dan inovasi berjalan beriringan. Desa kreatif di sini bukan proyek, tapi napas hidup,” ujarnya. Ia melihat Festival Nusantaraya sebagai wajah sejati masyarakat Malang, berakar pada solidaritas, spiritualitas, dan gotong royong.

Dari tiga wilayah yang berbeda karakter ini, satu kesadaran yang sama lahir: bahwa kreativitas adalah bahasa baru persatuan. Dari Batu yang menanam rasa, Malang yang menyalakan cahaya media, dan Kabupaten Malang yang menjaga jiwa budaya, Senyawa Malang Raya menjadi gerakan yang menegaskan: masa depan Indonesia tidak hanya dibangun dari beton dan angka, tapi dari imajinasi, kolaborasi, dan keberanian untuk terus mencipta.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilindungi Hak Cipta