
TAGARINDONESIA – Ruang akademik di Kampus C Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Sabtu, 14 Februari 2026, dipenuhi presentasi gagasan riset mahasiswa Magister Pendidikan Olahraga. Pascasarjana UIBU mengemas agenda tersebut dalam Festival Seminar Proposal, sebuah tahapan krusial sebelum mahasiswa melangkah ke penelitian tesis.
Rektor UIBU, Dr. Nurcholis Sunuyeko, M.Si., menegaskan bahwa jenjang magister menuntut kedalaman berpikir yang berbeda dari strata satu. Ia menyebut, tantangan utama mahasiswa S2 bukan lagi memahami teori dasar, melainkan membangun desain metodologi yang presisi dan relevan.
“Jika program studi S1 mempelajari dasar-dasar keilmuan, maka S2 lebih menekankan metodologi dan pendalaman pada satu bidang spesifik secara mendalam. Proposal tesis harus melahirkan metodologi yang berdampak,” ujarnya.

Ia menilai, proposal yang dipresentasikan mahasiswa tahun ini menunjukkan spektrum topik yang luas, mulai dari pendekatan pembelajaran olahraga hingga inovasi strategi pelatihan. Unsur kebaruan dan relevansi dengan praktik pendidikan menjadi catatan positif yang ia soroti.
Forum seminar proposal ini berfungsi sebagai ruang uji gagasan. Mahasiswa diuji pada konsistensi antara rumusan masalah, kerangka teori, serta metode yang dipilih. Kritik dan masukan dari dosen pembimbing maupun penguji menjadi bekal penting agar penelitian tidak melenceng dari desain awal.
Setelah tahapan ini, mahasiswa akan memasuki proses penelitian lapangan dan analisis data sebelum akhirnya menuju seminar hasil. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari kultur akademik Pascasarjana UIBU yang menekankan riset terarah dan aplikatif.
Di tengah tuntutan pengembangan pendidikan olahraga yang terus bergerak, UIBU menempatkan metodologi sebagai fondasi. Bukan sekadar formalitas akademik, melainkan instrumen untuk menghasilkan penelitian yang punya daya guna nyata bagi dunia pendidikan dan praktik olahraga.


















