
TAGARINDONESIA – Perayaan Idul Adha di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya berbicara tentang ibadah kurban dan pembagian daging kepada masyarakat. Di Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang, momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang memperkuat relasi sosial dan meneguhkan semangat toleransi di tengah keberagaman sivitas akademika.
Setelah rangkaian penyembelihan hewan kurban dan distribusi daging selesai dilaksanakan, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa berkumpul dalam acara syukuran dan makan bersama yang digelar di Kampus C UIBU, Jalan Citandui Nomor 46, Purwantoro, Kota Malang. Hidangan yang disajikan berasal dari olahan daging sapi kurban dan dinikmati bersama dalam suasana akrab.

Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang agama menjadi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Momen makan bersama tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan wadah untuk mempererat hubungan antarsivitas akademika yang sehari-hari berinteraksi di lingkungan kampus.
Rektor UIBU, Dr. Nurcholis Sunuyeko, M.Si, menegaskan bahwa perayaan Idul Adha di kampusnya selalu dimaknai lebih luas daripada sekadar pelaksanaan ritual keagamaan. Menurutnya, nilai utama yang ingin dibangun adalah persaudaraan, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan.
“Melalui momentum Idul kurban ini, kita semua lintas keyakinan ikut merasakan kebahagiaan bersama. Di UIBU, seluruh elemen kampus membaur tanpa sekat. Inilah implementasi nyata nilai-nilai kebudiutamaan yang selalu kita gaungkan,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Sam Rektor itu menambahkan bahwa tradisi kebersamaan seperti ini terus dipertahankan karena mampu memperkuat ikatan antarwarga kampus. Menurutnya, Idul Adha menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan rasa memiliki dan semangat kekeluargaan dalam kehidupan akademik.
“Ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga tradisi untuk memperkuat persaudaraan di antara sivitas akademika,” katanya.
Nilai toleransi yang dibangun dalam kegiatan tersebut juga dirasakan langsung oleh mahasiswa nonmuslim. Afretina Alisa, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris asal Flores, Nusa Tenggara Timur, mengaku terkesan dengan suasana hangat yang tercipta selama kegiatan berlangsung.
“Saya sangat senang bisa merasakan langsung kebersamaan ini. Semua menu yang disajikan dari hewan kurban rasanya enak, terutama baksonya. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ungkap mahasiswi beragama Katolik tersebut.
Pengalaman serupa disampaikan Emanuel, mahasiswa asal Flores yang juga beragama Katolik. Ia menilai pelaksanaan Idul Adha tahun ini berlangsung lebih tertata dan semakin menunjukkan kuatnya budaya toleransi di lingkungan kampus.
“Di sini kami benar-benar bisa menjalin toleransi tanpa membedakan suku dan agama. Makan bersama seperti ini membuktikan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bersatu,” ujarnya.
Melalui kegiatan itu, UIBU menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah masyarakat yang semakin beragam, praktik kebersamaan lintas agama seperti yang ditunjukkan dalam perayaan Idul Adha menjadi contoh bagaimana toleransi dapat tumbuh melalui interaksi sehari-hari yang sederhana namun bermakna.


















