
MALANG | TAGAR INDONESIA.COM – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Resah (AMARAH) Brawijaya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Malang, Kamis siang (24/9/2026).
Aksi turun ke jalan ini sengaja digelar untuk memperingati Hari Tani Nasional 2026 sekaligus menyuarakan berbagai ketimpangan agraria serta persoalan ruang hidup yang dihadapi para petani di Indonesia saat ini.
Massa aksi memulai pergerakan dengan berkumpul di titik kumpul GOR Pertamina Universitas Brawijaya (UB) pada 12:30 — 14:30.
Bersama kesepakatan mengenakan almamater, massa aksi Amarah brawijaya melakukan long march menuju Gedung DPRD Kota Malang dari alun-alun kota malang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada perwakilan rakyat.
Farhan Koordinator lapang aksi menegaskan bahwa Hari Tani Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah momentum krusial untuk menyoroti eksploitasi lahan dan ketidakadilan yang menimpa kaum tani.
“Aksi ini merupakan peringatan Hari Tani, di mana kami menagih janji reforma agraria sejati yang sudah berlalu selama 63 tahun. Kami menyampaikan aspirasi ini atas dasar kepedulian terhadap petani kecil di Malang Raya maupun Indonesia yang masih banyak menderita dan kerap mengalami konflik dengan tuan tanah. Selain itu, konflik dengan masyarakat adat juga harus segera diselesaikan, mengingat hal tersebut masih sangat berkorelasi dengan kehidupan dan pekerjaan mereka yang banyak bergantung pada sektor pertanian.
Harapannya, melalui aksi ini pemerintah dapat lebih memperhatikan petani secara aktual, bukan hanya melalui regulasi, tetapi juga melalui tindakan nyata,” ujarnya di sela-sela orasi.

Selain itu, salah satu massa aksi sekaligus Wakil Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, Kafitan Aidil, menuturkan bahwasannya, “Hari Tani Nasional 2026 merupakan satu momentum refleksi bagi negara dalam melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan swasembada pangan, penguatan ekonomi lokal, serta keberlanjutan ekosistem dan seluruh sumber daya alam yang ada di Indonesia.
Pasalnya, sebagai mahasiswa Ilmu Peternakan, saya memahami bahwa regulasi, sistem program kerja, dan inovasi yang berkaitan dengan alam perlu dikaji secara mendalam serta memiliki semangat dan keberpihakan terhadap rakyat. Sebab, jika kepentingan yang dibawakan hanya berorientasi pada keuntungan, maka dapat dipastikan keberlanjutan sumber daya alam menjadi hal yang paling ditinggalkan dan berpotensi untuk dirusak.”
Dalam aksi ini, Aliansi AMARAH Brawijaya membawa beberapa tuntutan utama sebagaimana terlampir di instagram @amarah.brawijaya.
Aksi penyampaian pendapat ini berjalan secara tertib dan dikawal oleh pihak kepolisian setempat. Aliansi mahasiswa menegaskan akan terus mengawal kebijakan agraria, baik di tingkat daerah maupun nasional, demi mewujudkan kedaulatan pangan yang sejati. (Red/gus)












