
TAGARINDONESIA – Ukuran perkembangan Kampoeng Budoyo Ketawanggede dapat dibaca dari jumlah orang yang berdagang di dalamnya.
Pada 2023, festival kampung ini masih berada di kisaran 50 stan. Dua tahun kemudian, jumlah partisipannya meningkat menjadi sekitar 150. Pada penyelenggaraan keempat yang berlangsung 25-28 September 2026, sekitar 230-an UMKM ikut masuk dalam ekosistem festival.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa Kampoeng Budoyo telah berkembang jauh dari sekadar panggung hiburan warga.
Di Ketawanggede, festival menjadi ruang tempat budaya dan ekonomi bertemu. Lebih dari 200 stan kuliner dan jajanan tradisional dibuka. Pengunjung yang datang untuk menikmati pertunjukan sekaligus menjadi pasar bagi produk warga.
Pada Minggu (27/9/2026), hari ketiga penyelenggaraan, kawasan festival dipenuhi pengunjung. Akumulasi kunjungan selama kegiatan disebut telah mencapai puluhan ribu orang.
Bagi pelaku usaha, kerumunan tersebut memiliki nilai ekonomi yang konkret.

Ketua RW 02 Ketawanggede, Firman Qusnul Arif, mengatakan terdapat sekitar 90 UMKM warga yang berada di bawah binaannya. Persiapan dilakukan jauh sebelum festival dimulai.
“Di bawah binaan saya ada sekitar 90 UMKM. Tujuannya untuk meningkatkan ekonomi mereka. 90 UMKM ini warga Ketawanggede asli semua. Tiga bulan sebelum Kampoeng Budoyo kami sudah sering koordinasi, termasuk pendataan,” ujar Firman.
Dengan jumlah pengunjung yang besar, Firman memperkirakan perputaran uang di UMKM binaannya dapat mencapai ratusan juta rupiah dalam empat hari.
“Kalau UMKM saya saja bisa ratusan juta dalam empat hari,” katanya.
Ketua Kampoeng Budoyo Ketawanggede, Yanto Catur, mengatakan komposisi peserta memang diarahkan untuk memberi ruang lebih besar kepada warga lokal.
“Terutama perekonomian. Kita ngangkat UMKM, ngangkat ekonominya warga semua. Untuk UMKM persentasenya memang kita lebihkan untuk warga sendiri, sisanya 35 persen untuk warga Malang Raya,” ujar Yanto.
Ketawanggede memiliki posisi yang menarik. Kampung ini berada di kawasan Lowokwaru yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas pendidikan Kota Malang. Mahasiswa dari berbagai daerah datang dan menetap di sekitar kampung.
Universitas Brawijaya bahkan secara administratif berada di wilayah Kelurahan Ketawanggede. Namun, popularitas kampus sering kali menutupi identitas kampung yang berada di sekitarnya.
Yanto mengatakan Kampoeng Budoyo sejak awal diarahkan untuk memperkuat identitas tersebut.
“Tujuan awal Kampoeng Budoyo itu menyatukan. Kita memamerkan ke kelurahan-kelurahan sekitar Ketawanggede guyub rukunnya. Ketawanggede itu sudah dikelilingi kampus-kampus, tapi di luaran sana masih banyak orang belum memahami Ketawanggede,” kata Yanto.
Festival menjadi medium untuk membuat nama Ketawanggede dikenal melalui sesuatu yang dimiliki warga sendiri.
“Alhamdulillah dengan adanya Kampoeng Budoyo, Ketawanggede sudah didengar orang, sudah tahu. Brawijaya sekarang orang menyebutnya, ‘Brawijaya, oh di Ketawanggede ya’,” ujarnya.
Konsep Colorful Urban Culture memperkuat pendekatan tersebut. Masing-masing RW menampilkan warna budaya yang berbeda. RW 02 membawa nuansa Bali, RW 03 Madura, sedangkan RW 04 mengangkat Jawa Barat atau Sunda.
Ragam budaya tersebut berjalan beriringan dengan hiburan. Sekitar 10 jenis pertunjukan ditampilkan, mulai keroncong, reggae, dangdut, perkusi, rock hingga musik Jawa.
Sebagian di antaranya merupakan hasil kreativitas warga.
“Perkusi warga saya, khususnya warga RW 2,” ujar Firman.
Kampoeng Budoyo juga menjadi ruang perjumpaan antara warga lokal dan mahasiswa yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia.
“Warna-warni kebudayaan. Kebudayaan di sini kan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Biar kegiatan mereka merasa seperti di rumah sendiri. Meskipun tidak pulang ke kelahirannya, tapi sudah merasa di kampung sendiri,” tutur Firman.
Dari sudut pandang warga, keberagaman tersebut membutuhkan lingkungan yang terbuka.
“Warga Ketawanggede ini biar dianggap ramah, menghormati suku mana pun dari seluruh Indonesia,” lanjut Firman.
Pertumbuhan dari 50 stan pada 2023 menjadi sekitar 230-an UMKM pada 2026 sekaligus menunjukkan semakin besarnya kapasitas warga dalam mengelola festival.
Namun, ekspansi tersebut membawa kebutuhan pembiayaan yang ikut membesar. Yanto mengatakan penyelenggaraan selama ini masih banyak ditopang partisipasi masyarakat.
“Harapan kita fresh money. Bagaimana caranya supaya tetap berlanjut Kampoeng Budoyo ini untuk selanjutnya, per tahunnya,” kata Yanto.
Ia berharap dukungan pemerintah dapat menjadi bagian dari pembiayaan rutin kegiatan.
“Tahun depan ini harus 100 persen dari pemerintah, minimal 50 persen,” ujarnya.












