
TAGARINDONESIA – Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, aula Malang Creative Center berubah menjadi ruang perjumpaan antara hafalan, pemahaman, dan kreativitas. Sebanyak 125 anak dan remaja dari tingkat usia dini hingga madrasah tsanawiyah mengikuti Anugerah Pecinta Qur’an (APQ) dan Science and Art Festival (SCARVAL) 2026, Minggu (15/2/2026).
Agenda yang digagas Yayasan Kharisma Hidayatul Mubtadi-in (YKHM) ini tidak hanya menampilkan kompetisi, tetapi juga pemberian apresiasi kepada peserta yang konsisten membaca, menghafal, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Atmosfernya terasa serius sekaligus hangat, dengan orang tua dan guru yang setia mendampingi.
Ketua Panitia APQ dan SCARVAL 2026, Siti Nuryana, menyampaikan bahwa kegiatan disusun sebagai wadah penguatan motivasi. “Kami menghadirkan IMTAQ, tahfidz, terjemah Al-Qur’an, serta mengaji kitab kuning untuk tingkat MTs. Anak-anak tidak hanya diuji kemampuan hafalannya, tetapi juga pemahamannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, konsep pengemasan dibuat variatif agar anak tidak terjebak pada pola belajar yang monoton. Selain tilawah dan tahfidz, panggung diisi puisi religi, nasyid, dan pertunjukan seni Islami. Pendekatan ini dipilih untuk menanamkan nilai Qur’ani melalui cara yang lebih kontekstual dan dekat dengan dunia anak.
Dalam rangkaian APQ, peserta melalui seleksi bertahap, mulai dari hafalan surat pilihan, hadis, doa harian, hingga tes akademik. Hasil penilaian kemudian menetapkan juara 1, 2, dan 3. Bagi penyelenggara, capaian tersebut menjadi bentuk penghargaan atas proses panjang yang dijalani peserta.
Kepala MTs Al Huda, Ahmad Fauzi, menilai kegiatan ini memiliki dimensi pembinaan karakter. “Anak-anak perlu dibiasakan memahami nilai yang mereka hafal. Di situ letak pentingnya pembelajaran yang menyentuh sikap dan perilaku,” ujarnya.
Rangkaian SCARVAL 2026 turut menampilkan drama musikal yang dibawakan santri TA Hidayatul Mubtadi-in dan MTs Al Huda. Menyongsong Ramadan, kegiatan diperluas melalui Ramadhan Fest dengan lomba mewarnai untuk peserta TK, RA, BA, TA hingga SD dan MI se-Malang Raya. Partisipasi lintas jenjang ini menunjukkan keterlibatan komunitas pendidikan yang lebih luas.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, Ahmad Shampton, memberikan catatan penting terkait arah pembelajaran Al-Qur’an di lembaga pendidikan.
“Selama ini banyak yang fokus pada hafalan. Itu baik, tetapi belum cukup. Al-Qur’an harus dipahami agar benar-benar menjadi penuntun hidup,” ungkapnya.
Menurutnya, pendekatan kreatif seperti pengemasan materi dalam bentuk lagu atau seni membuat proses belajar lebih mudah diterima anak. “Kalau anak sudah mencintai, proses memahami akan lebih ringan,” tambahnya.
Melalui APQ dan SCARVAL 2026, pesan yang ingin ditegaskan bukan sekadar prestasi di atas panggung. Kegiatan ini menjadi ruang penguatan fondasi, bahwa kecintaan terhadap Al-Qur’an perlu dibangun seiring dengan kedalaman pemahaman. Di tengah geliat program tahfidz, pendekatan yang menyeimbangkan hafalan dan makna menjadi ikhtiar membentuk generasi yang tak hanya cakap membaca, tetapi juga menghayati.


















