IMG-20260209-WA0001
IMG-20260209-WA0015
IMG-20260218-WA0002
1771476803488
IMG-20260219-WA0009
IMG-20260219-WA0008
previous arrow
next arrow

Kupon Belanja Berujung Hadiah, Penutupan Pasar Takjil Ketawanggede Dibanjiri Antusias Warga

  • Bagikan
banner 468x60

TAGARINDONESIA – Penutupan Pasar Takjil Ramadan di kawasan Ketawanggede, Sabtu (14/3/2026), berlangsung meriah. Bukan hanya karena deretan kuliner berbuka yang masih ramai diburu warga, tetapi juga karena momen pengundian hadiah yang menjadi penutup kegiatan pasar tahunan tersebut.

Sejak menjelang sore, warga mulai berkumpul di sekitar lokasi pasar. Sebagian membawa kupon undian yang mereka peroleh dari hasil berbelanja selama Ramadan. Ketika satu per satu kupon diambil dari kotak undian, suasana langsung berubah riuh. Sorak gembira terdengar setiap kali nama pemenang diumumkan.

Bagi pengunjung setia pasar Ramadan ini, kupon belanja itu memiliki makna lebih dari sekadar tiket undian. Kupon tersebut menjadi bagian dari tradisi kecil yang tumbuh selama hampir satu bulan, menghubungkan aktivitas belanja warga dengan kebersamaan di lingkungan kampung.

Ketua RW 02 Ketawanggede, Firman Qusnul Arif, mengatakan pengundian hadiah memang sengaja digelar sebagai rangkaian penutup Pasar Takjil Ramadan 2026 yang telah berjalan selama lebih dari tiga pekan.

“Penutupan pasar Ramadan ini sekaligus kami isi dengan pengundian hadiah untuk pengunjung. Total ada sekitar 70 hadiah yang disiapkan,” ujarnya.

Baca Juga:  Aksi Nekat Bunuh Diri Mahasiswa PTN di Malang, Bikin Gempar Warga Blimbing

Puluhan hadiah tersebut berupa berbagai perlengkapan rumah tangga yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari warga. Mulai dari rice cooker, kipas angin, kompor gas, hingga termos. Sementara hadiah utama yang paling ditunggu adalah mesin cuci.

Hadiah-hadiah itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Tidak sedikit warga yang sengaja menyimpan kupon mereka sejak awal Ramadan hingga hari terakhir dengan harapan bisa membawa pulang hadiah.

Menariknya, seluruh hadiah yang dibagikan berasal dari swadaya warga dan pengelolaan internal pasar. Tidak ada keterlibatan sponsor besar dalam penyediaannya.

Firman menjelaskan bahwa dana hadiah dihimpun dari iuran para pedagang yang berjualan di pasar Ramadan serta kontribusi warga sekitar yang memiliki usaha.

“Semua dari swadaya. Pedagang ikut iuran, kemudian ada juga warga yang punya usaha di sekitar sini yang ikut membantu,” katanya.

Untuk mendapatkan kupon undian, pengunjung hanya perlu berbelanja minimal Rp50 ribu di area pasar. Setiap nominal tersebut mendapatkan satu kupon, sementara nilai belanja yang lebih besar memperoleh kupon tambahan sesuai kelipatannya.

Baca Juga:  Kapolri Pantau Arus Mudik Lebaran Via Udara Pakai Helikopter

Proses pengundian pun dibuat terbuka agar semua peserta merasa dilibatkan. Panitia hanya menyiapkan kotak undian, sementara kupon diambil langsung oleh peserta yang hadir di lokasi.

“Kami hanya memfasilitasi saja. Yang mengambil kupon undian itu peserta sendiri,” ujar Firman.

Selama 24 hari pelaksanaan Pasar Takjil Ramadan, panitia mencatat sekitar 386 kupon undian terkumpul dari transaksi para pengunjung. Sementara setiap harinya diperkirakan sekitar 600 kupon beredar dari aktivitas belanja masyarakat.

Dari angka tersebut, perputaran uang di pasar diperkirakan mencapai Rp10 juta hingga Rp12 juta per hari. Nilai itu menunjukkan aktivitas ekonomi warga yang cukup terasa selama Ramadan berlangsung.

Pasar Takjil Ketawanggede sendiri telah berjalan selama tiga tahun terakhir dan menjadi salah satu agenda tahunan yang selalu dinanti warga setempat. Bahkan di luar Ramadan, aktivitas pasar tetap berlangsung setiap Minggu sebagai wadah bagi warga untuk berdagang.

Namun di balik geliat tersebut, para pedagang masih menghadapi kendala klasik, yakni belum adanya lokasi berdagang yang permanen. Selama ini mereka harus berpindah tempat ketika tidak ada kegiatan pasar.

Baca Juga:  Hadirkan Sabrang dan Kiai Kanjeng, Jazz Parlement DPRD Kabupaten Malang Kumpulkan Donasi 399 Juta untuk Korban Banjir Aceh

“Harapannya ke depan ada fasilitas tempat khusus dari pemerintah, karena ini menjadi mata pencaharian sehari-hari para pedagang,” kata Firman.

Menurutnya, keberadaan tempat usaha yang lebih tertata akan membantu para pedagang kecil bertahan dan tidak harus berpencar di berbagai sudut jalan.

Panitia juga mulai memikirkan pengembangan kegiatan untuk Ramadan tahun depan. Salah satu rencana yang disiapkan adalah menambah nilai hadiah sekaligus mencari sponsor tetap agar kegiatan dapat berjalan lebih besar dan berkelanjutan.

“Tahun depan kami ingin hadiahnya lebih besar dan mulai mencari sponsor permanen,” ujarnya.

Namun bagi warga Ketawanggede, kemeriahan penutupan pasar itu bukan semata soal hadiah. Lebih dari itu, Pasar Takjil Ramadan telah menjadi ruang pertemuan warga setiap sore menjelang berbuka—tempat di mana aktivitas jual beli sederhana berubah menjadi cerita tentang kebersamaan yang terus terjaga dari tahun ke tahun.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilindungi Hak Cipta