IMG-20260209-WA0001
IMG-20260209-WA0015
IMG-20260218-WA0002
1771476803488
IMG-20260219-WA0009
IMG-20260219-WA0008
previous arrow
next arrow

Ahmad Basarah: Isra Mi’raj Dimaknai Sebagai Penguatan Relasi Spiritual dan Sosial serta Perkokoh Keutuhan Bangsa

  • Bagikan
banner 468x60

TAGAR INDONESIA.COM – Peristiwa Isra Mi’raj, yang terjadi pada malam 27 Rajab, Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha menggunakan Bouraq, yaitu hewan yang berukuran lebih kecil daripada kuda tetapi lebih besar daripada bagal (keturunan silang antara kuda betina dan keledai jantan).

Hal tersebut diungkapkan Ahmad Basarah, anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil Malang Raya.

Ahmad Basarah mengatakan peristiwa Isra Mi’raj inilah perintah untuk salat lima waktu dalam sehari bagi seluruh umat Muslim diturunkan.

Selain itu, kalau peristiwa Isra Mi’raj juga bertujuan untuk mengobati rasa sedih Rasulullah SAW?

Baca Juga:  Bupati Lampung Tengah Terjaring OTT KPK, Amankan Barang Bukti Uang dan Logam Mulia

Pada tahun yang sama, paman Rasul, Abu Thalib, dan istri Rasul, Siti Khadijah, berpulang ke Rahmatullah.

Jadi, perjalanan ini juga dikisahkan sebagai pelipur lara untuk Rasulullah SAW yang sedang bersedih.

Peristiwa Isra Mi’raj, lanjutnya, adalah peristiwa bersejarah dalam Islam, tentang dua perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra atau Perjalanan Malam) dan dilanjutkan ke Langit Ketujuh atau Sidratul Muntaha (Mi’raj atau Kenaikan).

Menurut Al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada periode sebelum Rasulullah saw. hijrah, berkisar pada tahun 620-621 M.

“Makna bernilai dari Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah perintah salat lima waktu,” ujar Ahmad Basarah, Selasa (28/01/2025).

Baca Juga:  Dihadapan Presiden, Uang Hasil Korupsi CPO 13 T Diserahkan Jaksa Agung ke Menkeu RI Purbaya Yudhi Sadewa

Tata cara salat pasca Mir’raj bukan hanya seragam untuk umat islam sedunia, tapi juga mengandung pesan-pesan egalitarisme.

Setiap orang yang dianggap mampu berhak menjadi imam tanpa pertimbangan status sosial, dan kepemimpinan sang imam berakhir dengan berakhirnya salat berjamaah.

“Demikian lewat salat Allah mendidik umat manusia agar tertib, disiplin dan taat aturan, yang semuanya bermanfaat buat kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandas Ahmad Basarah yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri. (*)

Penulis: GalihEditor: Agus Prasetyo
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilindungi Hak Cipta