IMG-20260209-WA0001
IMG-20260209-WA0015
IMG-20260218-WA0002
1771476803488
IMG-20260219-WA0009
IMG-20260219-WA0008
previous arrow
next arrow

PERGUNU Kota Malang Resmi Dilantik, Diharapkan Jadi Garda Terdepan dalam Menjaga Moderasi Beragama

  • Bagikan
banner 468x60

MALANG | TAGAR INDONESIA.COM — Pengurus cabang PERGUNU Kota Malang resmi dilantik dalam sebuah upacara yang berlangsung meriah di Auditorium MAN 2 Kota Malang, Minggu (16/11/2025).

Pelantikan tersebut dirangkaikan dengan Seminar Nasional bertema “Peran Guru Nahdlatul Ulama dalam Penguatan Moderasi Beragama dan Transformasi Pendidikan di Era Digital.”

Acara ini menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari tokoh organisasi, akademisi, hingga praktisi pendidikan.

Dalam acara ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Antara lain Ketua Pengurus Pusat PERGUNU, Ketua PERGUNU Jawa Timur, dan Ketua PCNU Kota Malang.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga dihadiri para rektor, wakil rektor, dan dosen dari sejumlah perguruan tinggi di Malang Raya.

Seperti UNIKAMA, UNISMA, UNIRA, Universitas Ma Chung, dan STAIMA Al-Hikam.

Turut hadir pula kepala MIN 1 dan MIN 2 Kota Malang serta perwakilan dari Penerbit LitNus dan ANSOR Kota Malang.

Kehadiran mereka dijajaran tamu undangan, menunjukkan dukungan kuat terhadap pengembangan literasi pendidikan.

Guru NU sebagai Penjaga Moderasi

Ketua PC PERGUNU Kota Malang, Dr. H. Samsudin, M.Pd, dalam sambutan pembukanya mengungkapkan guru Nahdlatul Ulama (NU) memegang peran strategis di tengah dinamika sosial-keagamaan dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Baca Juga:  Prestasi Gemilang, MAN 2 Kota Malang Jadi yang Terbaik se-Indonesia dengan Perolehan Emas Terbanyak di Ajang OSN 2025

Menurutnya, guru NU tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menjaga harmoni sosial melalui nilai-nilai keislaman moderat yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan NU.

“Guru harus menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Kita menghadapi zaman yang cepat berubah, namun prinsip moderasi tetap harus dikedepankan,” ujarnya.

Sementara itu, KH Israqunnajah, M.Ag, Ketua PCNU Kota Malang, menambahkan pentingnya keteladanan guru di tengah maraknya informasi digital yang kerap tidak terverifikasi.

Kyai yang akrab dipanggil Gus Is ini mengatakan moderasi beragama perlu dihidupkan melalui perilaku sehari-hari, bukan hanya teori dalam kelas.

“Anak-anak kita hidup di era banjir informasi. Guru adalah filter pertama yang mampu mengarahkan mereka kepada pemahaman agama yang damai dan seimbang,” tegasnya.

Tiga Narasumber Bahas Tantangan Pendidikan Era Baru

Seminar nasional “Peran Guru Nahdlatul Ulama dalam Penguatan Moderasi Beragama dan Transformasi Pendidikan di Era Digital” menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang berbeda.

Tentunya para sumber ini memberikan perspektif yang saling melengkapi.

Baca Juga:  Sopir MBG Tabrak Siswa SDN Kalibaru 01, Cilincing Jakarta Diancam Hukuman Lima Tahun Penjara

Narasumber pertama, KH Asep Saifuddin Chalim, M.A. Dalam paparannya menekankan pentingnya kepemimpinan spiritual dalam menghadapi tantangan pendidikan modern.

KH Asep Saifuddin Chalim, M.A mengatakan teknologi tidak dapat menggantikan peran moralitas dan akhlak dalam membentuk karakter peserta didik.

“Teknologi adalah alat. Jati diri guru adalah pembentuk peradaban,” ujarnya.

Sedangkan narasumber kedua, Prof. Dr. Djunaidi Mistar lebih menyoroti urgensi literasi digital bagi tenaga pendidik.

Prof. Dr. Djunaidi Mistar menjelaskan bahwa transformasi pendidikan tidak bisa dihindari, terutama dengan semakin luasnya penggunaan platform digital dan kecerdasan buatan.

Prof. Djunaidi mendorong guru untuk memperbarui kompetensi pedagogik, tidak hanya dalam mengajar, tetapi juga dalam menyeleksi informasi digital yang valid dan bermanfaat.

“Jika guru tidak menguasai teknologi, ia akan tertinggal dari siswanya sendiri,” katanya.

Sedangkan narasumber terakhir, Dr. H. A. Hidayatullah, M.Pd, menyampaikan materi tentang strategi penerapan moderasi beragama di lingkungan sekolah. Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai toleransi, inklusivitas, dan penghargaan terhadap keberagaman harus diterapkan melalui praktik nyata yang bersentuhan langsung dengan peserta didik.

“Moderasi harus diajarkan dengan kebiasaan, pembiasaan, dan pembudayaan. Bukan cukup hanya menjadi slogan,” jelasnya.

Baca Juga:  PAC GRIB JAYA Turen Berbagi Keberkahan Bulan Ramadhan 1446 H Dengan Bagikan Takjil Gratis

Kolaborasi Pendidikan Semakin Menguat

Kehadiran pimpinan perguruan tinggi dari berbagai institusi menunjukkan adanya komitmen untuk memperkuat jejaring pendidikan di Kota Malang.

Kerja sama antara PERGUNU, kampus, dan lembaga penerbitan diharapkan dapat menghasilkan inovasi dalam kurikulum, penelitian, dan pelatihan guru yang relevan dengan tantangan era digital.

Penerbit LitNus yang turut hadir juga disebut akan berperan dalam menyediakan literatur pendidikan bermutu yang dapat mendukung program-program pelatihan guru NU di wilayah Malang.

Momentum Konsolidasi Guru NU

Pelantikan pengurus baru PC PERGUNU Kota Malang ini dipandang sebagai momentum untuk menguatkan konsolidasi organisasi guru NU dalam menjalankan program pendidikan yang inklusif, moderat, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Para peserta seminar berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi dan wawasan guru.

Acara ditutup dengan harapan agar PERGUNU Kota Malang dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga moderasi beragama.

Tak hanya itu, momentum ini sekaligus menjadi motor penggerak transformasi pendidikan di era digital. (Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilindungi Hak Cipta